Pertamina Percepat Transisi Energi dengan Inisiatif Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon

Pertamina sedang berada di garis depan dalam memperkuat komitmennya terhadap ketahanan energi dan transisi menuju sumber energi yang lebih berkelanjutan. Dalam upaya ini, perusahaan menerapkan strategi pertumbuhan ganda yang bertujuan untuk memaksimalkan nilai dari bisnis yang ada sambil juga membangun model bisnis yang rendah karbon. Pertamina berfokus pada dua aspek utama: pertama, memaksimalkan potensi bisnis hulu serta mengembangkan infrastruktur dan layanan; kedua, mendorong pengembangan bisnis rendah karbon yang inovatif.
Menegaskan Komitmen dalam Transisi Energi
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, mengungkapkan komitmen perusahaan dalam diskusi panel bertema “Dekarbonisasi: Tren Teknologi Global dan Praktik Terbaik”. Diskusi ini berlangsung pada Rabu, 3 Juni, dan menjadi bagian dari forum “World Bank Energy Knowledge and Learning Forum East Asia & Pacific”, yang berfokus pada transisi energi berkelanjutan di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang diprakarsai oleh World Bank Group.
Rencana Menuju Net Zero Emission 2060
Dalam pemaparannya yang berjudul “Mempercepat Transisi Energi Melalui Dekarbonisasi Industri dan Bisnis Rendah Karbon”, Agung menjelaskan langkah-langkah yang diambil untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Menurutnya, visi Pertamina adalah untuk menjaga keamanan energi nasional sambil mendorong transisi energi melalui program-program dekarbonisasi yang terintegrasi.
Agung menekankan pentingnya keseimbangan dalam transisi energi, terutama dalam menghadapi tantangan yang dikenal sebagai energi trilema, yang mencakup keamanan energi, keterjangkauan, dan keberlanjutan. Dalam konteks ini, Pertamina berupaya menjadi contoh yang baik, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik dan tantangan terkait perubahan iklim yang sedang dihadapi dunia saat ini.
Inisiatif Dekarbonisasi yang Mendorong Perubahan
Inisiatif dekarbonisasi yang dijalankan oleh Pertamina memberikan pelajaran berharga bagi peserta dari berbagai negara. Dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan, seperti geothermal, serta mengurangi flaring, Pertamina berkomitmen untuk mengembangkan bisnis rendah karbon. Beberapa langkah yang diambil termasuk:
- Mendorong penggunaan geothermal sebagai sumber energi bersih.
- Pengembangan energi baru dan terbarukan melalui biodiesel dan bioethanol.
- Implementasi Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS).
Pertamina juga menggantikan peralatan berbahan bakar fosil dengan peralatan yang menggunakan energi listrik. Langkah ini menghasilkan efisiensi energi yang signifikan, menghasilkan pengurangan emisi sebesar 1,52 MMtCO2e, yang berkontribusi hingga 66,86 persen dari total pengurangan emisi yang dicapai oleh perusahaan.
Inovasi dalam Bisnis Rendah Karbon
Sebagai bagian dari upaya bisnis rendah karbon, Pertamina mengembangkan inovasi dalam bahan bakar nabati. Diperkirakan, penjualan biofuel akan mencapai 60 juta kiloliter pada tahun 2029, dengan proyek utama berada di Bio Refinery Cilacap. Proyek ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian target keberlanjutan energi di Indonesia.
Memaksimalkan Potensi Energi Geothermal
Pertamina berfokus pada pengembangan kapasitas listrik dari geothermal sebesar 1,4 GW melalui proyek-proyek di Hululais dan Lahendong. Salah satu proyek strategis yang sedang berlangsung adalah Proyek Geothermal Lahendong Unit 7 & 8, yang telah dimasukkan dalam Green Book Kementerian PPN/Bappenas. Ini membuka peluang untuk mendapatkan dukungan pembiayaan dari lembaga keuangan internasional, termasuk World Bank, guna mempercepat pengembangan kapasitas geothermal nasional.
Pengurangan Emisi Metana yang Signifikan
Pertamina juga berkomitmen untuk mengurangi emisi metana (CH4) sebesar 40% dari emisi dasar pada tahun 2021. Di sektor hulu, perusahaan menerapkan program zero flaring dan kampanye deteksi serta perbaikan kebocoran melalui program Leak Detection & Repair Campaign (LDAR). Berkat inisiatif ini, emisi metana yang tidak terkontrol berhasil dikurangi antara 30-39,7 persen.
Salah satu pencapaian signifikan dalam pengurangan emisi ini terlihat di lapangan PEP Donggi Matindok, yang berhasil menurunkan kebocoran hingga 68,4 persen pada tahun 2025. Langkah serupa juga diterapkan di JOB Pertamina-Medco E&P Tomori, yang menargetkan pengurangan emisi CH4 sekitar 30 persen pada tahun yang sama. Sementara itu, PT Badak NGL berhasil mengurangi emisi CH4 hingga 38,7 persen pada tahun 2025.
Inisiatif dekarbonisasi yang dilaksanakan oleh Pertamina tidak hanya berkontribusi pada pencapaian target emisi, tetapi juga menunjukkan komitmen nyata perusahaan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global. Dengan pendekatan yang terintegrasi dan inovatif, Pertamina berupaya untuk menjadi pelopor dalam transisi energi yang berkelanjutan di Indonesia.



